SEJARAH SINGKAT ASAL USUL DAN PENYEBARAN BERBAGAI SUKU DAYAK YANG ADA DI KALTENG - tabloidmilitan.com - Media Informasi Lintas Kalimantan

Breaking

7/07/2020

SEJARAH SINGKAT ASAL USUL DAN PENYEBARAN BERBAGAI SUKU DAYAK YANG ADA DI KALTENG

Pengertian Dayak
Suku Dayak (Ejaan Lama : Dajak atau Dyak) adalah nama yang oleh penjajah diberi kepada penghuni pedalaman pulau Borneo (14) yang mendiami Pulau Kalimantan (Brunei, Malaysia yang terdiri dari Sabah dan Sarawak, serta Indonesia yang terdiri dari Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Selatan). Ada 5 suku atau 7 suku asli Kalimantan yaitu Melayu, Dayak, Banjar, Kutai, Paser, Berau dan Tidung. Menurut sensus Badan Pusat Statistik Republik Indonesia tahun 2010, suku bangsa yang terdapat di Kalimantan Indonesia dikelompokan menjadi tiga yaitu suku Banjar, suku Dayak Indonesia (268 suku bangsa) dan suku asal Kalimantan lainnya (non Dayak dan non Banjar). Dahulu, budaya masyarakat Dayak adalah Budaya maritim atau bahari. Hampir semua nama sebutan orang Dayak mempunyai arti sebagai sesuatu yang berhubungan dengan "perhuluan" atau sungai, terutama pada nama-nama rumpun dan nama kekeluargaannya.

Ada yang membagi orang Dayak dalam enam rumpun yakni rumpun Klemantan alias Kalimantan, rumpun Iban, rumpun Apokayan yaitu Dayak Kayan, Kenyah dan Bahau, rumpun Murut, rumpun Ot Danum-Ngaju dan rumpun Punan. Namun secara ilmiah, para linguis melihat 5 kelompok bahasa yang dituturkan di pulau Kalimantan dan masing-masing memiliki kerabat di luar pulau Kalimantan.

Bagaimana asal usul budaya Dayak? Dajak atau Dyak adalah nama yang oleh penjajah diberi kepada penghuni pedalaman pulau Borneo yang mendiami Pulau Kalimantan (Brunei, Malaysia yang terdiri dari Sabah dan Sarawak, serta Indonesia yang terdiri dari Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Selatan). Ada 5 suku atau 7 suku asli Kalimantan yaitu Melayu, Dayak, Banjar, Kutai, Paser, Berau dan Tidung. Menurut sensus Badan Pusat Statistik Republik Indonesia tahun 2010, suku bangsa yang terdapat di Kalimantan Indonesia dikelompokan menjadi tiga yaitu suku Banjar, suku Dayak Indonesia (268 suku bangsa) dan suku asal Kalimantan lainnya (non Dayak dan non Banjar). Dahulu, budaya masyarakat Dayak adalah Budaya maritim atau bahari. Hampir semua nama sebutan orang Dayak mempunyai arti sebagai sesuatu yang berhubungan dengan "perhuluan" atau sungai, terutama pada nama-nama rumpun dan nama kekeluargaannya.

Apa arti Dayak? Arti Dayak adalah sebutan umum di Kalimantan, diseluruh Indonesia setiap orang mendengar kata Dayak sudah tentu pandangannya tertuju kepada salah satu suku-suku di Indonesia yang mendiami pulau Kalimantan.

Bagaimana menurut pendapat para ahli tentang dayak mengenai asal usul Dayak? Rachmat dan R. Sunardi mengatakan bahwa Dayak adalah satu perkataan untuk menyatakan stam-stam yang tidak beragama Islam dan mendiami pedalaman Kalimantan, dan istilah ini diberikan oleh orang Melayu dipesisir Kalimantan yang berarti orang Gunung. 

Bangsa Melayu yang mendiami pesisir Kalimantan yang memberikan istilah Dayak kepada stam-stam yang tidak beragama Islam yang mendiami pedalaman Kalimantan, berarti orang Gunung, bila mana dilihat dalam arti yang umum tidak berbangsa Melayu pada waktu itu ialah orang-orang yang berasal dari daerah Melayu (berbahasa Melayu).

Siapa pelaku utama yang memberikan isitlah kata Dayak sebagai salah satu suku yang berada di pedalaman Kalimantan? Bilamana kita melihat dari sudut pandang orang Dayak sendiri, yang dikatakan orang Melayu ialah orang-orang yang datang dari daerah Melayu atau orang-orang yang datang dari luar luar selain orang-orang Tionghoa yang tinggal di Kalimantan. 

Dengan demikian orang pendatanglah yang memberikan istilah Dayak itu, atau orang-orang yang datang  dari daerah Melayu atau pendatang lainnya, misalnya orang-orang Jawa, Madura, Bugis dan lain-lain yang bertempat tinggal dipesisir Kalimantan. 

Apa ada dalam bahasa orang-orang Melayu dipesisir Kalimantan kata Dayak yang berarti orang Gunung? Menurut hemat penulis, belum pernah penulis menemukan dalam kamus bahwa kata Dayak berarti Orang Gunung. Kemungkinan besar pengertian Dayak yang berarti orang gunung karena sebagian besar orang-orang Dayak tinggal diudik-udik sungai yang tanahnya berbukit-bukit. Tetapi bukan berarti kata Dayak mengarahkan yang berarti orang gunung. 

Karena suku Dayak Kalimantan sudah terpencar dan tersebar kemana-mana, maka untuk panggilan mereka tersebutpun dibeda-bedakan, agar mudah untuk mengenal satu sama lain. Panggilan untuk orang Dayak, misalnya mereka berasal dari Barito, maka disebut Oloh Barito, yang berasal dari Kapuas, Oloh Kapuas, yang berasal  dari Katingan, sebagai Oloh Katingan, dan yang berasal dari sungai Kahayan, disebut dengan Oloh Kahayan, begitu pula seterusnya. 

Asal Usul Suku Dayak
Secara umum kebanyakan penduduk kepulauan Nusantara adalah penutur bahasa Austronesia. Saat ini teori dominan adalah yang dikemukakan linguis seperti Peter Bellwood dan Blust, yaitu bahwa tempat asal bahasa Austronesia adalah Taiwan. Sekitar 4 000 tahun lalu, sekelompok orang Austronesia mulai bermigrasi ke Filipina. Kira-kira 500 tahun kemudian, ada kelompok yang mulai bermigrasi ke selatan menuju kepulauan Indonesia sekarang, dan ke timur menuju Pasifik.

Namun orang Austronesia ini bukan penghuni pertama pulau Borneo. Antara 60.000 dan 70.000 tahun lalu, waktu permukaan laut 120 atau 150 meter lebih rendah dari sekarang dan kepulauan Indonesia berupa daratan (para geolog menyebut daratan ini "Sunda"), manusia sempat bermigrasi dari benua Asia menuju ke selatan dan sempat mencapai benua Australia yang saat itu tidak terlalu jauh dari daratan Asia.

Ras Australomelanesid yang semula mendominasi Indonesia wilayah barat kian berkurang dan tergantikan oleh ras Mongoloid. Beberapa ahli mengaitkan keberadaan ras Mongoloid ini dengan bangsa penutur bahasa Austronesia (Bellwood). Ras Mongoloid inilah yang pada masa kemudian menurunkan orang Dayak. Awalnya mereka tinggal di daerah pantai, hingga kemudian datang kelompok Melayu (Deutro Melayu) yang mendesak kelompok sebelumnya hingga ke arah hulu sungai dan pedalaman. Itulah sebabnya mereka disebut orang Dayak, yang dalam bahasa Kenya (Dayak Kenyah) berasal dari kata daya berarti hulu sungai atau pedalaman (Umberan 1993; Linblad 2012).

Dari pegunungan itulah berasal sungai-sungai besar seluruh Kalimantan. Diperkirakan, dalam rentang waktu yang lama, mereka harus menyebar menelusuri sungai-sungai hingga ke hilir dan kemudian mendiami pesisir pulau Kalimantan. Tetek Tahtum menceritakan migrasi suku Dayak Ngaju dari daerah perhuluan sungai-sungai menuju daerah hilir sungai-sungai.

Bagaimana asal usul suku Dayak? Mengenai asal usul suku Dayak masih banyak kita lihat perbedaan pendapat, ada yang mengatakan bahwa suku Dayak berasal dari langit ke tujuh (menurut tetek tatum), dan selain itu ada juga yang berpendapat bahwa suku Dayak berasal dari Proto Melayu.
Penyelidikan kebenaran, mengumpulan fakta-fakta dan informasi penting mengenai suku Dayak mengalami kesulitan karena Nenek Moyang suku Dayak tidak mengenal tulisan juga tidak bekas-bekas yang dapat digunakan dalam penelitian bagi generasi muda tentang suku Dayak. Yang ada hanyalah cerita dari mulut ke mulut, menurut cerita tersebut yaitu :
Ini berasal dari kepercayaan Kaharingan yang mengatakan bahwa nenek moyang suku Dayak diturunkan dari langit ketujuh dan diturunkan dengan Palangka Bulau oleh Ranying Hatalla Langit, atau disingkat Ranying atau Hatalla yang dalam bahasa Indonesia berarti Allah atau Tuhan.

Nenek Moyang suku Dayak yang diturunkan dengan Palangka Bulau, ada 4 tempat lokasi yaitu: 
Di Tantan Puruk Mangan Puruk Kaminting, yang terletak dihulu sungai Kahayan dan Barito.
Di Tantan Liang Mangan Puruk Kaminting, yang terletak disekitar Gunung Raya.
Di Datah Tangkasiang, dihulu sungai Malahui yang terletak disekitar Gunung Raya.
Di Puruk Kambang Tanah Siang, yang terletak dihulu Barito.
Orang –orang Dayak yang diturunkan ditempat-tempat ini kawin mengawin satu sama lain dan saling berkembang biak lalu memenuhi seisi pulau Kalimantan ,sehingga menurunkan orang Dayak yang sekarang ini.

Seorang ahli anthropologi Kolbrugge membagi suku Dayak ini menjadi 2 bagian yaitu :
Suku Dayak yang berkepala panjang (dolichophaal), yang berdiam di sepanjang sungai Kapuas yang bermuara sebelah barat Kota Banjarmasin.
Suku Dayak yang berkepala bulat (brachoephaal) termasuk didalam suku Dayak Kayan nama anak sungai dari Kapuas, Dayak daerah Kahayan dan Dayak daerah Katingan.
Siapa saja suku Dayak yang hidupnya masih sangat ketinggalan kemajuan? Suku Dayak yang hidupnya masih ketinggalan zaman atau kemajuan contohnya 
Dayak Ot
Ot Panyawung
Ot Siauw
Ot Mondai
Ot Pari
Ot Saribas
Ot Olong-olong

Dimana tinggalnya orang-orang diatas? Kebanyakan dari mereka ini tinggal dipegunungan Hulu Sungai Kahayan, Barito Kapuas, Mahakam, dan dipegunungan daerah perbatasan dengan Kalimantan Utara. Orang-orang Ot ini pada zaman dahulu sangat ditakuti oleh penjajah orang-orang Inggris maupun Belanda karena kehebatan dan kecakapan mereka dalam hal menyumpit, menyakiti atau bahkan membunuh tanpa menyentuh yang tidak tau dari mana asalnya.

Penyebaran Suku Dayak
Dikarenakan arus migrasi yang kuat dari para pendatang, Suku Dayak yang masih mempertahankan adat budayanya akhirnya memilih masuk ke pedalaman. Akibatnya, Suku Dayak menjadi terpencar-pencar dan menjadi sub-sub etnis tersendiri. 

Kelompok Suku Dayak, terbagi dalam sub-sub suku yang kurang lebih jumlahnya 405 sub (menurut J. U. Lontaan, 1975). Masing-masing sub suku Dayak di pulau Kalimantan mempunyai adat istiadat dan budaya yang mirip, merujuk kepada sosiologi kemasyarakatannya dan perbedaan adat istiadat, budaya, maupun bahasa yang khas. Masa lalu masyarakat yang kini disebut suku Dayak, mendiami daerah pesisir pantai dan sungai-sungai di tiap-tiap pemukiman mereka. Etnis Dayak Kalimantan menurut seorang antropologi J.U. Lontaan, 1975 dalam Bukunya Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat, terdiri dari 6 suku besar dan 405 sub suku kecil, yang menyebar di seluruh Kalimantan, penduduk suku Dayak juga kawin mengawin dan berkembang biak sehingga memenuhi isi pulau Kalimantan yang terpecah belah menjadi suku Dayak yang berbagai macam.

Macam-macam Suku Dayak dan Daerahnya 
Dikarenakan arus migrasi yang kuat dari para pendatang, Suku Dayak yang masih mempertahankan adat budayanya akhirnya memilih masuk ke pedalaman. Akibatnya, Suku Dayak menjadi terpencar-pencar dan menjadi sub-sub etnis tersendiri.
Kelompok Suku Dayak, terbagi dalam sub-sub suku yang kurang lebih jumlahnya 405 sub (menurut J. U. Lontaan, 1975). Masing-masing sub suku Dayak di pulau Kalimantan mempunyai adat istiadat dan budaya yang mirip, merujuk kepada sosiologi kemasyarakatannya dan perbedaan adat istiadat, budaya, maupun bahasa yang khas. Masa lalu masyarakat yang kini disebut suku Dayak, mendiami daerah pesisir pantai dan sungai-sungai di tiap-tiap pemukiman mereka.

Etnis Dayak Kalimantan menurut seorang antropologi J.U. Lontaan, 1975 dalam Bukunya Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat, terdiri dari 6 suku besar dan 405 sub suku kecil, yang menyebar di seluruh Kalimantan. 
Tiap tiap suku dibagikan lagi atas suku-suku kekeluargaan (sefamili). Saya akan memberikan kesimpulan, suku Dayak terbagi atas :
Suku Asal (rumpun)
Suku atau Anak Suku
Suku yang sedatuk
Suku yang kekeluargaan (sefamili)
Jadi jelas beberapa suku yang sefamili, merupakan penyelidikan terdiri dari 7 suku, dan ketujuh suku ini terdiri dari 18 anak suku yang sedatuk, dan 18 anak suku yang sedatuk, dan 18 suku yang sedatuk ini terdiri daro 405 suku kekeluargaan.
Berikut ini adalah pembagian besar suku Dayak :
Dayak Ngaju terbagi lagi dalam 4 suku kecil dan 4 suku kecil lagi dalam 90 suku paling kecil (sedatuk) yakni :
Dayak Ngaju terbagi lagi dalam 53 suku kecil-kecil.
Dayak Ma’anyan, terbagi lagi dalam 8 suku kecil-kecil.
Dayak Dusun, terbagi lagi dalam 8 suku kecil-kecil.
Dayak Lawangan, terbagi lagi dalam 21 suku kecil-kecil.
Dayak Apu Kayan terbagi lagi dalam 3 suku kecil dan 3 suku kecil terbagi lagi dalam 60 suku paling kecil (sedatuk) yakni :
Dayak Kenya, terbagi lagi dalam 24 suku kecil-kecil.
Dayak Kayan, terbagi lagi dalam 10 suku kecil-kecil.
Dayak Bahau, terbagi lagi dalam 26 suku kecil-kecil.

Dayak Iban dan Heban (Dayak Laut) terbagi lagi dalam 11 suku kecil-kecil.

Dayak Klemantan (Dayak Darat) terbagi lagi dalam 2 suku kecil dan 2 suku besar terbagi lagi dalam 87 suku kecil lagi (sedatuk). 
Dayak Klemantan (Dayak Darat), terbagi lagi dalam 47 suku kecil-kecil.
Dayak Ketungau, terbagi lagi dalam 40 suku kecil-kecil.

Dayak Murut terbagi lagi dalam 3 suku dan 3 suku terbagi lagi menjadi 44 suku kecil-kecil.
Dayak Murut, terbagi lagi dalam 28 suku kecil-kecil.
Dayak Idaan (Dusun), terbagi lagi dalam 6 suku kecil-kecil.
Dayak Tidung, terbagi lagi dalam 10 suku kecil-kecil.

Dayak Punan, terbagi lagi dalam 52 suku kecil-kecil atau 4 suku daerah.
Dayak Basap, terbagi lagi dalam 20 suku.
Dayak Punan, terbagi lagi dalam 24 suku.
Dayak Ot, terbagi lagi dalam 5 suku.
Dayak Bukat, terbagi lagi dalam 3 suku.

Dayak Ot Danom, terbagi lagi 61 suku kecil-kecil.

Jumlah seluruhnya yakni 7 suku besar = 18 suku kecil = 405 suku kecil-kecil.

Bahasa yang digunakan pada pulau Kalimantan Tengah pun  terdiri dari :
Bahasa Dominan :
Bahasa Melayu 
Bahasa Banjar 
Bahasa Ngaju 
Bahasa Maanyan 
Bahasa Ot Danum 
Bahasa Katingan 
Bahasa Bakumpai 
Bahasa Tamuan 
Bahasa Sampit 

Bahasa Kelompok Minoritas: 
Bahasa Mentaya
Bahasa Pembuang   
Bahasa Dayak Bara Injey
Bahasa Dusun Kalahien
Bahasa Balai  
Bahasa Bulik 
Bahasa Kadoreh 
Bahasa Mendawai 
Bahasa Waringin 
Bahasa Dusun Bayan 
Bahasa Dusun Tawoyan 
Bahasa Dusun Lawangan 
Bahasa Dayak Barean



DAFTAR PUSTAKA

Bellwood, Peter. 2000. Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Lindblad, J. Thomas. Antara Dayak dan Belanda, Sejarah Ekonomi Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan 1880-1942. Malang: Lilin Persada Press.
Lontaan, J.U. 1975. Hukum Adat dan Istiadat Kalimantan.
Riwut, Tjilik. 1993. Kalimantan Membangun Alam dan Kebudayaan. NR Publishing : Yogyakarta
Riwut, Tjilik. 2003. Maneser Panatau Tatu Hiang, Menyelami Kekayaan Leluhur. NR Publishing : Yogyakarta
Sellato, Bernard. 2002. Innermost Borneo: studies in Dayak cultures. NUS Press. Hlm 19. ISBN 2914936028. ISBN 978-2-914936-02-06
Seni Budayaku. https://www.senibudayaku.com/2017/11/bahasa-daerah-kalimantan-tengah.html. Diakses pada 13 Juni 2020
Sosial Horizon. https://journal.ikippgriptk.ac.id/index.php/sosial/article/view/376. Diakses pada 13 Juni 2020
Umberan, Musni. 1993. Sejarah Kebudayaan Kalimantan. Jakarta: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional.
Wikipedia. https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Dayak. Diakses pada 13 Juni 2020.

Penulis :

GLORIA ESTERIANA
FINALIS 07.
PUTERA PUTERI KEBUDAYAAN INDONESIA 
PROVINSI KALIMANTAN TENGAH 
TAHUN 2020.





  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar