MENGENAL TATO SUKU DAYAK KALTENG - tabloidmilitan.com - Media Informasi Lintas Kalimantan

Breaking

7/08/2020

MENGENAL TATO SUKU DAYAK KALTENG

“My body is my journal, and my tattoos are my story.”

MENGENAL TATO SUKU DAYAK KALTENG

“Tattoos can denote the transition from childhood to  adulthood. It can 
denote the transition from adolescent to warrior.”

Tatoo Bulan di betis kaki (doc: Museum Galeri Indonesia Kaya)
Tatoo Bulan di betis kaki (doc: Museum Galeri Indonesia Kaya)

Tato digunakan sebagai simbol atau penanda dalam tubuh manusia, karena tato dapat bercerita mengenai pengalaman-pengalaman atau realitas yang ingin didapat oleh individu yang memakainya. Tato dapat menjadi sebuah ekspresi antara lain ekspresi rasa sayang terhadap anak, ekspresi rasa sayang dan cinta terhadap istri maupun pasangan, ataupun ungkapan sayang dan sakit hati karena cinta. 

Di sisi lain tato dipercaya dapat mendatangkan keberuntungan, menunjukan status sosial, juga menambah kecantikan, kedewasaan, dan harga diri pemiliknya.

Selain itu tato juga bisa digunakan sebagai identitas. Identitas meliputi upaya mengungkapkan dan menempatkan individu-individu dengan menggunakan isyarat-isyarat nonverbal seperti pakaian dan penampilan. 

Banyak komunitas yang menjadikan tato sebagai salah satu ciri komunitas mereka. Walaupun tidak ada gambar tertentu yang menjadi keharusan untuk ditatokan di tubuh, komunitas punk, genk motor, atau anak-anak band banyak yang menggunakan tato ditubuhnya sebagai salah satu ciri kelompok mereka (Driyanti, 2011, pp. 6-7).

Tato khas suku Dayak merupakan suatu tanda kebudayaan yang sangat bernilai dan dimiliki oleh sebagian besar suku Dayak asli. Dan tentu saja memiliki arti dan makna tersendiri bagi suku tersebut.

Secara umum orang berpendapat bahwa kesenian adalah hasil ekspresi jiwa manusia akan keindahan. Sebenarnya tidak semua hasil karya seni dapat dinyatakan demikian, karena ada karya seni yang lebih mengutamakan pesan budaya yang mengandung unsur-unsur sistem budaya dari masyarakat yang bersangkutan.

Jika pada jaman dahulu tato hanya digunakan sebagai pelengkap kebudayaan, kini tato sudah mengalami perubahan pesat. Berbagai macam tema, mulai dari gambar, simbol, tulisan inisial sampai nama, bahkan replika foto dituangkan pada bagian atas kulit tubuh menjadi karya seni yang cukup indah. 

Oleh karena itu kini tato pun digunakan sebagai media komunikasi secara non-verbal untuk menyampaikan makna atau pesan tertentu. Seperti misalnya yang terdapat pada suku Dayak Bahau. Mereka menggunakan seni ukir tersebut sebagai bentuk pengenalan identitas diri serta berkomunikasi terhadap sesama suku Dayak.

Tidak banyak literature yang membahas mengenai tattoo ataupun motive tattoo Dayak Ngaju. Memang saat ini tattoo Dayak Ngaju bisa dikatakan telah punah, karena sudah banyak suku Dayak Ngaju yang menganut kepercayaan Islam, Kristen dan juga aturan Pemerintah yang tidak menerima pegawai/polisi/tentara yang memiliki tattoo, disamping itu tidak ada lagi generasi tua yang masih tersisa yang bertattoo. 

Leluhur penulis yang bertattoo adalah kakek dari kakek ku salah satunya yang ada di daerah Tangkahen – konon cerita kakekku badannya penuh dengan tattoo dan semacam garis-garis. Sedangkan leluhur penulis yang berasal dari Tumbang Mantuhe juga dahulu bertatto – hanya menurut cerita kakekku tattoo leluhur yang ada di Tumbang Mantuhe adalah perlambangan dari “sahabat-sahabat” ghaibnya.

Orang sering mengasosiasikan Dayak dengan tattoo dan kuping panjang. Padahal tidak semua sub suku dayak menggunakan tattoo dan berkuping panjang. Pada kebudayaan Dayak Ngaju tidak dikenal budaya kuping panjang tetapi “babunus” atau“pesek” alias bertindik.

Suku Dayak membuat tattoo atau “tutang” dalam bahasa Dayak Ngajunya dengan maksud:

1. Menurut kepercayaan Kaharingan, bila seseorang telah membuat tutang ditubuhnya, kelak bila meninggal dunia dan telah menjalani upacara tiwah, maka tutang yang berada ditubuhnya yang semula berwarna hitam, akan berubah menjadi emas sehingga seluruh tubuh akan berkilat-kilat.

2. Sebagai bukti bahwa ia suku Dayak. Sebab menurut tetek tatum (Kisah Kejadian Suku Dayak Ngaju), bahwa semua keturunan Antang Bajela Bulau, Tunggal Garing Janjahunan Laut, harus mempunyai tutang atau tattoo, sebagai bukti turunan nenek moyangnya. Dan semua turunan yang bernama suku Dayak harus di tutang badannya dan di “pesek” atau ditindik telinganya.

3. Terikat dengan sifat kepahlawanan. Dimasa lalu apabila pemuda suku Dayak tidak bertutang ditubuhnya, kurang mendapat penghargaan dari gadis-gadis sebab dianggap kurang jantan

4. Tanda lulus kinyah, biasanya pada usia 10 tahun, dimana anak ini telah berhasil mempelajari gerakan kinyah atau bela diri menggunakan Mandau dan berhasil mendapatkan kepala musuh maka di betis kakinya akan diberi tattoo

CARA MEMBUAT TUTANG.
Peralatan yang harus disediakan:
•Sale damar, sale nyatting (arang damar), yaitu damar mata kucing atau damar batu, kalau damar lain menurut adat tidak diperbolehkan, karena katanya jika menggunakan damar jenis lain akan mengakibatkan infeksi.
•Upih pinang
•Lawas humbang buluh (seruas bamboo buluh)
•Humbang basila due (bamboo terbelah dua)
•Sanaman lapis isin tutang kahain tunjuk (besi gepeng untuk mats tutang sebesar telunjuk)
•Tabalien bulat kahain tunjuk (kayu ulin bulat sebesar jari).

Cara membuatnya:
Damar dibakar sampai menyala dan upih pinang dibengkokan diatas asapnya, agar arang dikumpulkan dan disimpan di lumbung buluh dan dicampur dengan sedikit air dan diletakan didalam bamboo yang telah dibelah dua. Setelah itu kulit digaris/dicacah dengan mata tutang dan dipukul dengan kayu ulin bulat sebesar jari sampai keluar darah dan dimasukan sale damar, boleh juga dicampur dengan emas / tembaga. Seminggu sampai sebulan barulah bekas luka yang ada dapat sembuh betul. Bila seluruh badan yang akan ditutang, memakan waktu sampai 2 tahun karena tidak dapat dilakukan sekaligus, karena sakitnya proses pembuatan tutang.

Nama-nama Tutang
Gambar naga, lampinak (seperi salib), apui (api), palapas langau (sayap lalat), matan punei (mata burung punei), saluang murik, manuk tutang penang, manuk tutang usuk, tutang bajai (tattoo buaya), tutang tasak bajai dinding. (Doc:Folk of Dayak Capt 2).

Gambaran Tatoo dayak ngaju zaman dahulu
Jadi dapat disimpulkan bahwa tato motif tradisional Dayak merupakan suatu bentuk identitas sosial suku Dayak. Disamping itu, tato motif tradisional Dayak juga merupakan suatu bentuk peninggalan nenek moyang yang wajib dilestarikan dan suatu bentuk karya seni yang harus dihargai.

             
Penulis :
STEFFAN ADJI.
Finalis No. 13.
PUTERA PUTERI KEBUDAYAAN INDONESIA
PROVINSI KALIMANTAN TENGAH
TAHUN 2020.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar